Puisi dalam Asa


NAIF
Jika kau bertemu dengan Tuhan-mu
Tanyakanlah olehmu ….!
Apakah “Adam” diciptakan untuk memperkosa “Hawa” …?
Sungguh naif atas sangkamu
Sungguh hina atas sualmu
Tapi daku tak bisa menghukummu
Karena bukti telah menyerbu
Bukti telah nyata
Dan bukti juga telah mengantar ke nista
Hawapun menyayangi bukti
Bukti pula mengantar Adam bereaksi
Aksimu adalah kutukan Tuhan
Yang dimanjakan syetan
Aksimu adalah bujukan iblis
Yang bakal kena iris
Aksimu adalah perbuatan
Yang kelak di adili Tuhan
Bertobatlah ….!
Jika kau bertemu Tuhan
Tanyakanlah olehmu
Apakah “Hawa” diciptakan untuk menggoda “Adam”

Tanggerang 16 Desember 2006

***

Culas
Ku basuh lalu ku usap
Keringat membasahi badan
Yang tak pernah nikmat
Lemas dan lesu yang terasa
Meratapi kehidupan nyata
Orang durjana
Yang bakal kena murka
Tuan-tuan yang masih hdup
Tuan janganlah makan dari hasil korup
Tuan harus dihukum
Seperti debu yang kena tiup
Masa setiap hari memadati jalan
mereka tidak puas dengan tatanan
bentrok pun berjalan
di sudut kota yang begitu suram
Tanggerang 1 Maret 2003

***

“Kertas Maut”

Antrian menggiring
Menuju loket yang sempit
Di ujung sudut ia pun terdiam
Merasakan hidup yang semakin pahit
Menggenggam secarik kertas berharga
Bagaikan permata
Harapan itu ia dambakan
Selalu digenggamnya erat-erat
Tanpa merasakan terik menyengat
Ia pun menunggu antrian maut
Kemudian ia tak tahan
Pandangannya seakan berkabut
Haus dan letih pun menimpa tubuhnya yang kurus
Lalu ….
Ia tersungkur, tergeletak lemas
Di tanah kering yang tandus
Pamrih mereka menghapus asa yang sirna
Maut pun datang di tengah antrian panjang

Semarang, 6 Nopember 2005

***

KOTA TUA
Lima tahun yang lalu
Ku injak kota tua
Di sudut itu pun ku menatap
Pada gedung tinggi nan mantap
Bangunan yang unik dan menarik
Mata ku semakin melirik
Terhadap arsitektur yang unik
Oh …. Kota tua
Kenapa engkau mempesona
Ku teringat akan bentuk dan warna
Kendaraan berlalu lalang
Tak lupa sepedah ontel mu
Yang rapuh ditelan jaman
Sayup-sayup terdengar suara adzan
Di seberang sungai terdapat masjid yang besar
Dan disekitar 500 meter terdapat gereja Beleduk yang terkenal
Keharmonisan pun terjadi begitu kental

Semarang 4 Agustus 2007
***





Sang Surya

Di padang yang membara
Aku berlayar menjemput fajar demi fajar
Kepedihan tlah hangus dengan sinar-Mu
Memberi sebuah makna dalam diriku

Cahaya-Mu kini menerangiku kembali
Dengan memancarkan sekilas senyum
Dan memperlihatkan keindahan di balik mega
Mulutku di tumbuhi lumpur yang beku
Menutup ungkapan syukur kepada-Nya
Terus menyusuri tangga langit yang kelam
Untuk mengejar sinar-Mu itu

Engkau
memberi kehangatan ketika hujan
memberiku cahaya terang di kegelapan
memberiku sejuta asa bagiku dalam kehidupan

Jakarta 07 Juli 2008
***

Alam

Curah hujan tak henti-henti
Semakin lama semakin kunanti
Walau terasa sakit
Bagai telapak tertusuk duri
Angin merana seakan sedih
Sama sekali tak mengeluarkan pedih
Gunung menangis sambil merintih
Mengeluarkan emosi yang begitu mendidih

Awan hitam menggelapkan bumi
Matahari tak terbit karena risih
Akhirnya hujan turun ke bumi
Dihadang kemarau yang mengikuti
Tanah kering terbelah
Terjatuhlah batang pelapah
Akhir musim pun semakin parah
Terpaku melamun menatap denah

Karawang, 25 Juli 2002
***
Nisa

Cinta tak habis dikata
Seperti seni tak pernah sirna
Walau ditebus dengan air mata
Memang cinta itu buta
Cinta bukanlah bayangan
Cinta bukan juga khayalan
Tapi bayangan menimbulkan cinta
Khayal lah yang merasakan

Ketika cinta merasuk jiwa
Halus kulitnya bila di mata
Aatau wanita bagaikan bintang
Terlihat indah bila di pandang
Wanita tak terlepas dari cantik
Kalau diceritakan selalu menarik
Awalnya dari kesetiaan yang murni
Kemudian bersemayam di hati

Karawang, 19 Desember 2004
***

Bidadari

Salam pertama itu ku ucapkan
Terketuklah hatiku kemudian
Daku pulang lalu terbayang
Di suatu tempat teduh dan rindang

Dia duduk sendiri
Tak seorangpun yang menemani
Semakin lama semakin sepi
Semua orang berlalu dan pergi
Kemudian ia nampak berdiri
Menuju jalan belok ke kiri terus ku ikuti
Akhirnya ketemu bidadari

Aku tak menyadari
Apakah aku mimpi
Lalu kucubit pipi
Ternyata timbullah rasa nyeri

Tanggerang, 27 September 2002
***


Merintih
Rongga kering menanti tetesan air
Yang tak kunjung jatuh
Bagaikan mutiara bening
Dahaga pun menyerbu
Rongga haus meringis seakan berteriak
Meminta setetes air yang berharga
Dikau merintih kesakitan
Berjalan sempoyong
di tengah jalan yang kering
tersapu debu dan terhempas angin
renunganku nan panjang
melelahkan tiada henti
dari pori-pori ku keluar bara panas
yang tersengat oleh kekerasan
membakar, menghanguskan semua asa
pergi... pergilah menjauh dariku
hai.... dahaga rasa haus pun kan ku usir
agar rongga ku pun sejuk sepanjang masa

Semarang, 7 Mei 2005
***

Ketika dipuji dan dicemoh
 
Kita tak menyadari
Sesuatu yang terjadi dan akan terjadi
Semua dari Tuhan
Kemuliaan dan kehinaan tak akan terwujud tatkala Tuhan tak menginginkan
Tepukan tangan membuat orang terperangah menaikan dada walau napas terasak sesak begirtu juga ketika dicemoh
Orang merasa terbuang seakan tak berguna

Pujian dan cemohan tak pernah luput dari ingatan, ingatan pun melayang ketika raga disuguhi sajian, yang dibubuhi bermacam pujian
Ingatan juga tersentak
Ketika sukma dimasukan keranjang yang penuh bermancam cemohan
Hidup pun merasa ragu
Bernapas terasa berhenti di tengah malam yang penuh bayangan semu
Wahai …. Sahabat terimalah dua hal tersebut dengan kekuatan iman dan takwa

Karawang, 20 Pebruari 2005
***

Cinta

Jiwaku berkata
Jika kau ikat kakiku dengan senyumanmu
Atau kau lempar ragaku
Kepelabuhan rawut wajahmu
Tentu sukmaku akan membisu
Seakan turut terhadap apa yang kau mau
Jiwaku berkata
Jika kau membenciku
Dengan meludahi seluruh tubuhku
Atau kau tusuk dengan kata tajam
Bagai pedang terhunus ke hulu hati
Tentu akan tersenyum
Karena jiwa ku mengajar dan mendidiku untuk mencintai dan menyayangi
Apa yang orang lain benci dan mencaci maki
Benci dan cacianmu
Menjadi cambuk bagiku
Untuk berbuat cinta yang sejati
Bertemu dengan ilahi

Semarang, 10 Nop 2005
***

Sang Cahaya

Tanak disekitar ka’bah bergetar
Bukan hanya di situ,
tapi diseeluruh arab dan Persia
semua merasakannya
dukun-dukun menangis karena tak dapat paket dari syetan iblis berhala-berhala tersungkur,
rapuh terbelah bagaikan pelapah
angin bertiup kencang mendorong pasukan burung, mengejar pasukan gajah yang sombong, seketika pasukan gajah pun binasa tak ada sisa, sang yatim pun lahir dalam posisi sujud seraya merendah dan berdoa
malaikat-malaikat gemuruh bertasbih membaca shalawat, memuji kebesaran Sang Mahakuasa
yang telah mengutus sang Cahaya yang menerangi alam semesta  segenap penjuru barat dan timur, Allah memeliharanya, Allah menyayanginya, Allah merahmatinya.

Semarang 07 Nopember 2005

***

Ngebor

Tatkala mendadak redup
Jiwaku mendadak membutuhkan obor
Daku heran seakan tak terasa hidup
Melihat goyang begitu ngebor
Orang menghujat hidupmu
Yang terhimpit ketidak mampuan
 Orang membenci hidupmu
Yang terjebak dalam gua kebutuhan
Rasa benci dan iri pun bermunculan
Seperti rumput yang tumbuh dipinggir jalan
Ya….. “hawa” aku merasa geli melihatmu
Ku rasa “adam” tak bersalah untuk berbuat
Seperti gelandangan menahan lapar
Dikasih roti langsung disambar
Ya … “Adam” kau harus tenang
Selagi kau tak melanggar
Dan “Hawa” kamu diciptakan
Bukan untuk mengoda
Melainkan harus setia
Abapila semua nyata
Tentu kita tak akan buta dan merasa hina

Tanggerang, 27 Peb 2003
***


Pilu

Pilu tlah lama melekat
Ku acuh tak pernah lepas
Angin mengusir
Menggong-gongi seekor kucing
Pilu semakin melekat
Setiap lanngkah ku ayunkan
Betis lesu gemetar tanpa kekuatan
Badan lemas keringat bercucuran
Pilu oh pilu …
Sedih dan haru pun berkunjung
Menjenguk lalu mengantar
Ke ranjang keheningan

Semarang, 2 Mei 2006
***

Pengadilan tak kunjung datang

Awan hitam bergelembung
Gemuruh ombak menghalang
Sinar mentari pun tak kunjung dating
Berapa sinar yang memancar dari tanganmu
Semakin lama semakin suram
Terhalang gelam malam
Tuan … apakah sadar
Suatu saat nanti ada kekuatan yang lebih
Tuan apakah kau tahu
Materi itu sesuatu yang menipu
Iba-mu tak kuharapkan
Yang kuharapkan keadilan tanganmu
Yang tak kunjung dating

Semarang, 18 Maret 2005
***

Dusta yang menggoda

Kadang tersenyum sinis
Ketika orang matrealistis
Kadang merengut benci
Ketika orang yang suka iri

Padahal kematian selalu mengikuti
Kepada orang yang Tuhan kehendaki
Tak sejengkalpun ia bisa lari
Apabila dating padanya mati

Harta, anak-anak bahkan kekuasaan
Tak bisa menolong dan menghalangi
Takutlah pada suatu hari
Hari yang taka da seorangpun bisa menolong

Kecuali amal sendiri
Harta yang ia bahilkan
Akan dikalungkan kelak
Ia tak bisa bergerak
Walau dengan setapak

Pangkat, kekuasaan
hanya untuk menuntut balas
terhadap apa yang ia campakan dengan malas
dikatakan pada mereka:
Rasakanlah siksa ini
Karena engkau berbuat dusta yang menggoda

Semarang, 13 Nopember 2005
***



Menopang lara menuju cinta

Disaat lara merasuk dalam jiwa
Tubuh lemas seperti tak bernyawa
Detak jantung pun tak seperti biasa
Menghitung detik dimaya pada

Cinta merana karena tak menyapa
Terhalang benteng yang perkasa
Atau cinta menjauh di sana
Tak bisa ditempuh dengan mata

Jiwa kadang terdiam
Sesaat di malam yang kelam
Lalu berjalan sempoyongan
Menopang tongkat sambil menggemgam

Merintih-rintih menahan lara
Kemudian jatuh mengusap dada
Lalu ia berkata
Ya Tuhan dekatkanlah daku
Dengan cinta yang jauh di sana
Dan jauhakanlah dengan lara
Yang meruksak jiwa dan raga

Karawang, 26 Okt 2002
***
Bersatulah

Wahai … buruh bersatulah
Pererat persatuannmu
Walau belenggu mengikat kedua tangan dan kakimu

Kita tidak butuh pemimpin yang dzholim
Egois hanya berpihak kepada pengusaha yang tamak dan rakus
Undang-indang yang cetak
Adalah undang-undang yang keluar dari mulut srigala yang berbisa
Menggong-gong ditengah malam
Menakut-nakuti bagi mangsa

Tapi buruh bukan lah mangsa yang kau sangka
Buruh kan menggigit bila dicubit
Buruh akan menampar bila di lempar

Kekuatanmu ada di tanganku
Ke hancuranmu ada di kakiku
Dan kebesaranmu ada di dadaku
Persatuan kami sangat kuat dan ganas
Seperti paku bumi yang tertancap di Tugu Monas
Wahai … penguasa dengarlah
Bahwa kedholiman akan hancur
Bersama orang-orangnya terkurung
Oleh kekuatan yang tiada batas

Semarang, 01 Juni 2005
***

Pribumi Malang

Pribumi …. Oh…. Pribumi
Ketika hatimu tercabik
Sungguh malang nasibmu
Jika dilihat merasa iri

Pribumi … oh … pribumi
Kenapa di negri kami tak seperti di Saudi
Pribumi jadi tuan
Bisa berdiri di atas kursi
Pendatang tunduk patu
walau tak digaji seperti TKI
sungguh malu bangsa ini
pribumi hanya gigit jari
tak bisa merasakan apel dan buah berduri
padahal “keturunan” berkongkang-kongkang
dengan kendaraan mewah nan berseri
apakah tak bisa,
pendatang dan pribumi seperti di Saudi
wahai … saudaraku
kita berjuang bersama
untuk martabat jiwa tanah kita
jangan diam dan bisu
selalu dicurigai oleh babi-babi yang dibenci

Semarang, 11 Maret 2006
***

Syair Perahu

Inilah gerakan suatu madah
Mengarahkan syair begitu mudah
Membetulkan jalan tempat berpindah
Disanalah itikad dibetuli sudah
Wahai anak muda kenalilah
dirimu ia lah perahu tamsil hidupmu
yang tiada sudah berapa lama hidupmu
hai …. Anak muda berlaku ariflah
hasilkan kemudi denga pedoman
alat perahu jua kau kerjakan
itu sebuah jalan membentuk insan
perteguh jua alat perahumu
hasilkan bekal, air dan kayu
dayung pengayuh taruh di situ
supaya laju perahu mu itu

karawang 06 Maret 2004
***

Pusing

Pusing tujuh keliling
Membuat badanku kurus kering
Bagai kayu yang tertimbun
Tiap waktu hanya melamun

Hujan deras disertai suara petir
Sunyinya malam
membuat kepalaku tambah pusing
walau dengan hampa
tetap kan ku hunus dengan penaku
yang begitu rakus
jauhkanlah terhadap kemalasan
yang selalu menyelimutiku
dan taka da ujung

Karawang April 1996 
***
   

Komentar